Kamis, 25 Agustus 2016

Menjelang Badai atau Pelangi?

Disekitar ramai, sangat ramai sampai cenderung bising. Tapi jauh didalam ternyata sepi, amat sunyi sampai semua yang terlihat hanya seperti pertunjukan pantomim, bergerak berucap tapi tak mengeluarkan suara. Aneh memang, iya. Tapi semua itu nyata, bukan sekedar khayalan panjang yang lantas bersambung. Dia menyenangkan namun juga menyebalkan. Dia mengasyikan tapi sebenarnya sering membuat mata sembab. Dia yang dimaksud bukan sosok manusia, dia adalah kesendirian.

Kesendirian entah kata benda atau kata kerja. Entah dia itu berwujud atau hanya ungkapan dari sekumpulan makna. Dia yang dulu diacuhkan, dia sering menyapa tapi tak kalah sering juga dianggap tak ada. Seperti rasa takut yang tiba-tiba menyelusup ke kepala, tanpa aba-aba tanpa rencana. Dulu, sendiri itu berarti bebas, bisa kesana kemari dan melakukan apapun tanpa peduli perasaan orang yang harus kita jaga. Sendiri itu menyenangkan. Tak ada kekangan, tak ada aturan dan tak ada kewajiban untuk saling menyapa. Tapi akhir-akhir ini kesendirian sudah tidak bisa lagi dijadikan kawan, mendadak dia berubah jadi “sosok” menakutkan, mengancam. Seiring waktu, kesendirian seakan bisa mengumandangkan peringatan bencana, dia lantang berucap, “ bersiaplah sesuatu yang tidak kau sukai bahkan kamu benci akan segera datang, kamu tidak bisa lari kamu tidak sembunyi!”. Terdengar menyeramkan bukan? Ya, seperti itulah juga rasanya perasaan satu hawa saat ini, dihantui rasa takut akan selamanya berkawan dengan kesendirian. Dia yang dulu membanggakan kesendirian tapi sekarang untuk sekedar bisa lepas darinya pun sangat amat sulit. Dia memberontak, dia meronta dan kadang dia menjerit, lantang, tapi anehnya kesendirian tetap saja betah berkawan, masih terus menguntit layaknya bayangan, enggan lepas kecuali raga berpisah dengan jiwa.

Kadang sosok hawa itu sering bertanya, apa yang salah dari dirinya? Apakah dia buruk rupa, isi kepalanya terlalu kecilkah atau impian dia tentang kebersamaan yang terlalu tak mengenal kompromi? Dia tak tahu, bahkan dengan bertanya pada diri sendirinya pun dia tetap tak menemukan jawaban. Bertanya pada sosok manusia yang lainnya? Hanya kesia-siaan sepertinya, karena apa yang dia dapat tak jarang hanya setumpuk kalimat balasan penenang yang sebenarnya hanya bermakna ketidakpedulian. Pesimis? Mungkin, tapi bukan berarti dia tak punya harapan. Hanya saja besarnya harapan masih kalah dibanding besarnya kekuatan si kesendirian yang masih ingin berkawan. Kesendirian masih memegang kendali, singgasana masih dia kuasai, sosok hawa hanya bisa menunggu sambil terus mengucap rapalan doa. Semoga tidak terlalu terlambat untuk bertemu kebersamaan.