Selasa, 15 Maret 2016

Hi, 23!

Hai untuk ke 23 kali-nya 15 Maret. Alhamdulillah masih diberi nikmat nafas untuk sampai kesini lagi. Untuk usia yang semakin menua ini tidak ada lagi doa yang (terlalu) egois selain tetap yang utama kesehatan mamah dan bapak, keluarga yang utuh-harmonis-dan lancar rezekinya. Sedang untuk doa egois lainnya, semoga Alloh masih memberi izin untuk memberi nikmat nafas setiap harinya, nikmat kemudahan dan keberkahan dalam setiap urusan dan semoga semakin dilimpahkan bahagia lahir dan batin. Oh ya satu lagi, nikmat dipertemukan dengan tepat waktu dengan jodoh dari-Nya juga.

Seiring angka bertambah bukan lagi perayaan atau ucapan sekedar formalitas yang diharap, tidak lain hanya doa yang dipanjatkan. Ya Alloh, semoga orangtua ku masih diberi nikmat umur panjang dan sehat, bisa melihat aku hidup bahagia nantinya. Karena apalah arti bahagia, saat yang utama tak lagi ada. Jika keberkahan ku (pasti) akan ditambah, maka izinkan aku bagi juga keberkahan itu dengan mamah dan bapak. Terimakasih untuk nikmat ini ya Rabb, semoga semakin berkah. Amiin ya Rabbal alamin.

Kamis, 10 Maret 2016

Pamit

Setelah hampir satu bulan vakum menulis dan ngedumel lewat blog ini, here I come, tepuk tangannya mana? ( ngomong sama karakter fiksi yang udah keterlaluan banyaknya dikepala ).

Pamit. Bukan artinya aku mau say goodbye sama blog ini tapi itu satu judul lagu yang most played minggu ini di hp ku. Single terbaru milik Tulus. Penyanyi laki-laki berbadan plus size, dengan senyuman khasnya, pintar berdiksi dan entah kenapa musiknya selalu nempel di memori. Agak telat sebenarnya, karena single ini udah rilis dari akhir Februari lalu, tapi mau gimana lagi  momen menemukan secara tidak sengajanya baru kejadian di minggu kedua Maret. Ah, Maret. Bulan yang selalu saja memberikan banyak temuan, banyak memori.

Back to pamit, inti lagu ini adalah hubungan dua lawan jenis yang terjebak di zona LDR (yups, topik ini tetap happening ). Saat sepasang sejoli berusaha menyangkal masalah perbedaan jarak dan waktu, saat si wanita mulai insecure dan saat setiap argumentasi selalu berujung dengan kata menyakitkan bagi keduanya. Sampai akhirnya si laki-laki minta izin buat pergi ( what the fuckin' joke), karena dia sudah cukup mengerti kalo semuanya terlalu dipaksakan. Part lirik yang paling menyayat ingatan buatku ( yes, it's a fact! ) adalah :

" yang berubah hanya tak lagi ku milikmu, kau masih bisa melihatku, kau  harus percaya ku tetap teman baikmu "

Big lies banget kan ya liriknya? Ha! It's so made me mad and crying at the same time. Persis kaya orang gila. It's crap, Tulus, honestly. Oh my!

Kalo kalian mikir aku suka dan sampe segila ini dengan pamit adalah karena aku pernah punya unsuccess relationship with LDR, jawabannya adalah kalian salah. Karena bukan poin LDR yang jadi bahan garam dalam ingatan aku alias yang bikin perih. Pamit aku anggap dan aku gambarkan dengan hubungan nyata tanpa nama beberapa tahun silam. Hubungan antara aku-dan-dia-tanpa-pernah-jadi-kita, dia dengan Tuhannya dan aku dengan Yang Maha Esa. Keadaan yang kalo menurutku jauh lebih pelik dari sekedar jarak dan waktu yang masih bisa terlihat mata, sedang Tuhan, Dia kasat mata tapi aku dan dia tetap mempercayai keberadaannya meski dengan cara meyakini yang jelas berbeda.

Ah Tulus. Kamu berhasil bikin aku sembab dan bengkak, bukan cuma di mata tapi juga didalam dada. Sesuatu yang hanya alunan nada dan digabung dengan lirik serta dilantunkan oleh mulut, tapi efeknya so surprising for me.

Senang mengetahui masih ada musisi tanah air yang pintar berdiksi tanpa terkesan hiperbola bahkan gombal. Sebuah pencerahan, thanks God.

PS : semoga aku pun bisa benar-benar pamit dengan dia, someday