Disekitar ramai,
sangat ramai sampai cenderung bising. Tapi jauh didalam ternyata sepi, amat
sunyi sampai semua yang terlihat hanya seperti pertunjukan pantomim, bergerak
berucap tapi tak mengeluarkan suara. Aneh memang, iya. Tapi semua itu nyata,
bukan sekedar khayalan panjang yang lantas bersambung. Dia menyenangkan namun
juga menyebalkan. Dia mengasyikan tapi sebenarnya sering membuat mata sembab.
Dia yang dimaksud bukan sosok manusia, dia adalah kesendirian.
Kesendirian entah kata
benda atau kata kerja. Entah dia itu berwujud atau hanya ungkapan dari
sekumpulan makna. Dia yang dulu diacuhkan, dia sering menyapa tapi tak kalah
sering juga dianggap tak ada. Seperti rasa takut yang tiba-tiba menyelusup ke
kepala, tanpa aba-aba tanpa rencana. Dulu, sendiri itu berarti bebas, bisa
kesana kemari dan melakukan apapun tanpa peduli perasaan orang yang harus kita
jaga. Sendiri itu menyenangkan. Tak ada kekangan, tak ada aturan dan tak ada
kewajiban untuk saling menyapa. Tapi akhir-akhir ini kesendirian sudah tidak
bisa lagi dijadikan kawan, mendadak dia berubah jadi “sosok” menakutkan,
mengancam. Seiring waktu, kesendirian seakan bisa mengumandangkan peringatan
bencana, dia lantang berucap, “ bersiaplah sesuatu yang tidak kau sukai bahkan
kamu benci akan segera datang, kamu tidak bisa lari kamu tidak sembunyi!”. Terdengar
menyeramkan bukan? Ya, seperti itulah juga rasanya perasaan satu hawa saat ini,
dihantui rasa takut akan selamanya berkawan dengan kesendirian. Dia yang dulu
membanggakan kesendirian tapi sekarang untuk sekedar bisa lepas darinya pun sangat
amat sulit. Dia memberontak, dia meronta dan kadang dia menjerit, lantang, tapi
anehnya kesendirian tetap saja betah berkawan, masih terus menguntit layaknya
bayangan, enggan lepas kecuali raga berpisah dengan jiwa.









