Setelah
hampir satu bulan vakum menulis dan ngedumel lewat blog ini, here I come, tepuk
tangannya mana? ( ngomong sama karakter fiksi yang udah keterlaluan banyaknya
dikepala ).
Pamit. Bukan artinya aku mau say goodbye sama blog ini tapi itu satu judul lagu yang most played minggu ini di hp ku. Single terbaru milik Tulus. Penyanyi laki-laki berbadan plus size, dengan senyuman khasnya, pintar berdiksi dan entah kenapa musiknya selalu nempel di memori. Agak telat sebenarnya, karena single ini udah rilis dari akhir Februari lalu, tapi mau gimana lagi momen menemukan secara tidak sengajanya baru kejadian di minggu kedua Maret. Ah, Maret. Bulan yang selalu saja memberikan banyak temuan, banyak memori.
Back to pamit, inti lagu ini adalah hubungan dua lawan jenis yang terjebak di zona LDR (yups, topik ini tetap happening ). Saat sepasang sejoli berusaha menyangkal masalah perbedaan jarak dan waktu, saat si wanita mulai insecure dan saat setiap argumentasi selalu berujung dengan kata menyakitkan bagi keduanya. Sampai akhirnya si laki-laki minta izin buat pergi ( what the fuckin' joke), karena dia sudah cukup mengerti kalo semuanya terlalu dipaksakan. Part lirik yang paling menyayat ingatan buatku ( yes, it's a fact! ) adalah :
" yang berubah hanya tak lagi ku milikmu, kau masih bisa melihatku, kau harus percaya ku tetap teman baikmu "
Big lies banget
Kalo kalian mikir aku suka dan sampe segila ini dengan pamit adalah karena aku pernah punya unsuccess relationship with LDR, jawabannya adalah kalian salah. Karena bukan poin LDR yang jadi bahan garam dalam ingatan aku alias yang bikin perih. Pamit aku anggap dan aku gambarkan dengan hubungan nyata tanpa nama beberapa tahun silam. Hubungan antara aku-dan-dia-tanpa-pernah-jadi-kita, dia dengan Tuhannya dan aku dengan Yang Maha Esa. Keadaan yang kalo menurutku jauh lebih pelik dari sekedar jarak dan waktu yang masih bisa terlihat mata, sedang Tuhan, Dia kasat mata tapi aku dan dia tetap mempercayai keberadaannya meski dengan cara meyakini yang jelas berbeda.
Ah Tulus. Kamu berhasil bikin aku sembab dan bengkak, bukan cuma di mata tapi juga didalam dada. Sesuatu yang hanya alunan nada dan digabung dengan lirik serta dilantunkan oleh mulut, tapi efeknya so surprising for me.
Senang mengetahui masih ada musisi tanah air yang pintar berdiksi tanpa terkesan hiperbola bahkan gombal. Sebuah pencerahan, thanks God.
PS : semoga aku pun bisa benar-benar pamit dengan dia, someday
Tidak ada komentar:
Posting Komentar