Rabu, 10 Februari 2016

Good Hair Gone Lepek

Long weekend yang sangat amat menguras emosi. Mungkin itulah satu kalimat yang paling pas buat menggambarkan keadaan psikologis (?) aku akhir minggu kemaren. Ya gimana ga nguras emosi jiwa dan raga coba, semua rencana berantakan, mulai dari rencana pengen ngabisin waktu (dan uang?) dengan cara muterin mall  to mall, sampe mau movie maraton, semuanya kandas seketika (halah bahasanya). Semua gara-gara rambut sialan, salah potong rambut emang selalu dan udah pasti fatal sefatal-fatalnya buat kondisi mood kedepannya.

Aku dengan hati yang masih mengkel dan agak kurang yakin memutuskan buat sedikit, iya SEDIKIT aja, ‘merapihkan’ potongan rambut yang udah mulai ga jelas bentukannya ke tangan seorang kapster salon di perumahan deket rumah. Ya emang sih biasanya aku mempercayakan rambut aku itu ke tangan kapster salon yang lumayan udah punya banyak cabang di mall-mall, tapi dikarenakan mood lagi jelek dan tingkat mager udah sangat akut jadi ya terpaksalah ‘rapihin’ rambutnya ke tempat yang masih bisa dijangkau dalam 5-10 menit’an aja (tanpa macet tentunya).

And the nightmare come, saat ngaca aku seketika pengen nangis sekaligus pengen banting kaca yang ada tampilan muka dan tentu aja rambut aku itu. Bener-bener deh itu bukan aku banget, aku jelek sejelek-jeleknya ( meskipun selama ini aku juga ga cukup wah buat dibilang cantik apalagi seksi tapi tetep aja aku masih enak diliat), lah ini berubah jadi sosok perempuan yang mirip abis kena penyakit tifus atau bahkan kanker (MAAAAAF). Rambutku yang emang pada dasarnya kemarin udah kurang tebel, sekarang malah tampil makin mengerikan dengan keadaan yang super tipiiiiiiiiis banget, bener-bener ga bervolume sama sekali, lepek ga jelas. Duh Gusti, dosa aku apa sih kemarin kok ya ampe begini banget rambut aku. Mau nangis ya malu, masa iya gara-gara salah potong rambut aja ampe nangis di tempat umum, ya gengsi aku sedikitnya masih nyisalah. Dengan mengepalkan tangan dan menumpuk segenap kekuatan di dada (lebay) aku beranjak pulang, terus mandi dan kemudian sedikit merebahkan badan ke kasur, mencoba berpikir positif.

“ Oke take a deep breath ti, calm down, tenang, relaks, ini cuma sementara, paling cuma seminggu-dua minggu jeleknya, ntar abis keramas beberapa kali juga ini rambut bakal berbentuk dan hasilnya bakal bikin kamu happy lagi dan ga senyesel kaya sekarang. Tenang tenang, tunggu aja ya,, sabar…”

Itu kira-kira omongan aku yang aku tujukan buat diri aku sendiri. Tapi ya Tuhan, tetep aja hati ini ga tenang, gelisah gundah gulana merana ( dangdut abis euy ). Tidur ga bisa, makan juga ga nafsu, halah pokonya bener-bener kepikiran. Aku nyesel banget, nyeseeeeel mampus malah, kalo tau hasilnya bakal semengecewakan ini mending ga usah lah itu tadi so-so rapihin rambut, eh ujung-ujungnya bukannya rapih yang ada malah bad messy lepek hair begini. Mamaaaaaah, abi kudu kumaha?????? :((((((((

Sekarang baru hari ke-5 sejak bencana rambut itu dimulai, dan kita liat apa aku bakal tetap bertahan dengan kelepekannya atau menyerah dengan memangkasnya pendek. Tapi jujur aja dengan memangkasnya jadi pendek juga aku kurang pede, wajahku kan bulet tuh plus sekarang berponi depan pula, apa nantinya ga bakal keliatan jadi kaya dora ya, duh hayati bener-bener bingung zainudin, raisa serba salah ( gila? Bodo amat!) >,<

So, it's really ended by being 'lepek' or something looks like Dora? We’ll see!



Kamis, 04 Februari 2016

Hidup Sukses Itu Apa?

Selamat hari Kamis semua! ( tebar senyum indah nan cemerlang ala bintang iklan pasta gigi hahahaa )

Hai hai, hari ini mau ‘ngedumel’ soal gawean nih hehehe. Jadi tadi pagi itu aku nonton acara IMS ( Indonesia Morning Show ) di NET TV, ya udah jadi rutinitas aja sih, seru aja kalo pagi-pagi dimulai dengan menonton sesuatu yang 'pinter', ga cuma ikut mainstream dengan nonton gosip ato acara musik yang ga jelas, oke maaf. Nah salah satu topik berita yang tadi dibahas itu adalah tentang rencana pemutusan kontrak alias phk di beberapa perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia ( dan kebanyakan di Cikarang, as we knows ). Duh ya ampun, otak mendadak langsung inget si aa, kakak cowok satu-satunya yang semenjak lulus udah gawe di satu perusahaan impor Jepang yang ada di kawasan Jababeka sana. Ngeri aja ngebayangin kalo sampe dia ikut kena imbas gelombang phk, naudzubillah.

Terus, di acara itu ada bintang tamu nya gitu, satu dari pihak sipil dan satu lagi perwakilan pemerintah. Masing-masing punya pendapatnya sendiri, tapi kesimpulan akhirnya sama, Indonesia butuh terobosan baru biar gimana caranya tenaga kerja kita yang udah gawe di perusahaan luar tetep bisa ‘aman’ meskipun ada gerakan ekonomi apapun, tenaga kerja kita mesti terampil dan kreatif. Ga boleh kalah sama saing sama tenaga kerja luar. Kita punya semua sumber daya alam yang dibutuhkan, masalahnya lagi-lagi soal gimana kita mengembangkan sumber daya manusianya. Mau se-melimpah apapun SDA kalo SDM nya ga terampil ya habislah semua, kelar. Nah kaya gitu lah kalo bisa diumpamain.

Topik tadi pagi lagi-lagi bikin aku jadi makin mikir, udah alhamdulilah banget bisa gawe dikantor yang sekarang. Apalagi kalo mau dirunut, sehabis lulus sekolah aku cuma nganggur 3 bulan sampe akhirnya keterima gawe di salah satu grup perusahaan media terbesar di Indonesia ( sebut aja dia Indovision ), meskipun pertamanya gawe disana itu udah berasa kaya dijajah pemerintah kolonial Belanda alias sistem kerjanya kaya kerja rodi tapi toh dari sana juga aku dapet banyak pundi-pundi rupiah yang lumayan bisa bikin kebutuhan hidup ( dan sosial ) terpenuhi. Dan helaan nafas lelah selanjutnya adalah karena  setelah aku resign dari sana rasanya kok ya ga lagi bisa dapet gawean dengan penghasilan yang lebih dari cukup, mulai dari gawe dengan harus berangkat dari tempat kost jam 6-dan-ga-boleh-telat-dikit-karena-saking-berliku-likunya-perjalanan-menuju-kantor, sampe akhirnya mutusin buat pindah dari ibukota dan stay di Bandung, etapi sialnya aku malah dapet musibah ( baca : dijambret ) dan itu bikin kapok setengah mampus buat balik gawe lagi di Bandung-sampe-sekarang. Kesialan berlanjut dengan akhirnya harus rela pindah ke rumah tercinta di Ciamis, kerja disana yang baru bentar banget malah harus resign ( lagi dan lagi ) karena aku mesti dirawat. Ya Alloh, 2014 sampe 2015 awal itu bener-bener tahun yang berat, sangat berat. Tingkat stres sampe udah nyaris mendekati depresi, astagfirullah, untung masih ada orangtua-terutama-mamah yang masih mau support dan mengerti soal kondisi aku saat itu ( nangis terharu ).

And again, thanks God, pertengahan 2015 kesabaran mulai berbuah, aku diterima kerja di perusahaanku yang sekarang,. Meski secara penghasilan jauh berbeda dengan perusahan pertamaku-yang-kerjanya-rodi-macam-kuli tapi secara waktu aku jadi bisa lebih banyak menikmati hidup. Bisa jalan-jalan, atau sekedar leyeh-leyeh dirumah menikmati Sabtu-Minggu sore tanpa dibebani setumpuk deadline. Ah, Tuhan memang sangat adil.

Sukses itu memang tidak melulu soal berapa banyak uang yang kita punya atau setinggi apa tumpukan surat penghargaan yang kita punya. Sukses tidak semudah dan se-menyenangkan yang banyak orang pikirkan ( atau khayalkan ), sukses itu butuh usaha gila-gilaan, butuh proses yang lama, engga lurus dan mulus, banyak terjal dan tikungannya, ga jarang juga harus jatuh berkali-kali lantas mau ga mau kita harus bergegas bangkit lagi, mengejar kesuksesan versi diri kita sendiri. Sukses itu relatif guys, tergantung apa yang kita pikirkan dan targetkan.

So, terima dan nikmatilah apa yang kamu punya sekarang, kembangkan potensi yang kamu punya, jangan keterusan sibuk men-judge kesuksesan oranglain tanpa mau berusaha membuat kesuksesan kita sendiri. Hidup itu untuk dijalani dengan logika dan butuh imajinasi juga untuk bisa dinikmati, tapi sometimes hidup tidak cukup dengan dijalani tapi harus bergegas. Sukses itu proses, masalah itu waktu maka dari itu hidup itu akan hidup. Selamat menghidupkan hidup, teman!

Rabu, 03 Februari 2016

Melepas Hujan


Masa lalu bagiku terkadang seperti hujan. Ia kadang membumbung tinggi di depan matamu, atau memercik sedikit kena pipimu atau justru deras sekali di antara sudut-sudut jendela hatimu. Memandang masa lalu seperti genangan hujan, selalu mengapung di permukaan matamu. Terus menerus menggenang jika memang kamu tidak berani untuk menghapusnya.

Masa lalu tercipta bukan untuk dilupakan, ia nyata untuk diingat. Karena memang kita tidak diberikan keajaiban untuk bisa memutar waktu kembali dan memperbaiki sesuatu yang dirasa tidak pas di masa lalu, maka mengambil hikmah atas apa yang terjadi dan melanjutkan hidup adalah pilihan terbaik yang bisa kita lakukan. Seperti juga hujan dan genangannya, sekali dua kali kita mungkin berhasil menghindarinya tapi dilangkah selanjutnya kita pasti akan kebasahan, dan apa yang harus kita lakukan adalah menertawakan kekonyolannya, seraya lekas bergegas pulang ke rumah, membersihkan diri, memakai sweater tebal sambil menyeruput secangkir cokelat hangat dan kembali menertawakan diri sendiri.

Jika cara berdamai dengan orang lain mungkin adalah dengan mengakui kesalahan dan meminta maaf-dan-atau-memaafkan maka menerima lantas menertawakannya adalah cara berdamai dengan diri sendiri. Lepas. The show must go on,sederas apapun hujan dan segala riak badainya, suatu waktu ia akan berhenti juga. Maka nikmatilah segala 'kemeriahannya' lantas lekatkan ia rapat-rapat dengan memorimu, menyatu dengan petrichor setelahnya.

( dari aku yang masih juga terlalu pintar-atau-naif menutupi luka dengan setumpuk senyuman dan tawa renyah )

Senin, 01 Februari 2016

Januari oh Januari

Halo Feb,

Feb disini yang aku maksud itu nama bulan ya bukan nama panggilan orang hahaha. Oke, jadi ini adalah postingan resmi untuk cerita pertama yang bakal aku share. Dan cerita itu adalah tentang apa yang terjadi di bulan Januari. Bukannya kaya lagu Gigi yang 11 Januari yang isinya flashback dimana kang Arman dan teh Gita dipersatukan atau bukan juga kaya lagu Glenn Fredly yang katanya kisah kita (?) berakhir di Januari itu. Jadi apa dong cerita Januari lo Ti? Nah itu kali ya kira-kira yang kalian tanyain dari tadi, hahahaha oke-oke aku mulai aja. Januari tahun 2016, tahun baru pertama setelah aku comeback (berasa artis aja comeback) dari rumah tercinta dan balik merantau ke ibukota yang kejamnya melebihi kakak tiri *tersenyum getir*.

Sebenernya banyak banget kejadian yang aku rasain di Januari, tapi kalo aku ceritain semua ya bisa muntah nanti yang baca ( oke maaf ) hahaha. Ya intinya Januari itu banyak ngajarin aku buat ga gampang percaya sama orang, ga gampang percaya sama tampilan luar dari orang-orang yang aku kenal. Ada yang tampilannya keliatan naïf, polos dan lugu ampe kadang aku mengutuk diri sendiri kenapa ga bisa kaya dia, ga bisa setenang dan sesempurna dia, eh tapi ternyata 3 hari menjelang Januari berakhir semua tampilan yang aku bilang tadi salah besar. Aslinya orang itu bener-bener pinter, mending kalo pinter nya buat hal yang bener, lha ini pinter bikin imej ( situ artis ceu ampe susah payah bikin imej biar dikata innocent,duh miris ).

Bener-bener ngerasa ketipu banget sih, sampe kesel dan marahnya itu ampun banget, bikin rencana weekend terakhir kemaren berantakan, ga mood kemana-mana, males beramah-tamah sama siapa pun ( padahal mereka ga ada salah apa-apa ), ah pokoknya bener-bener annoying banget lah. Tapi masih ada untungnya, untung ketauan sekarang sebelum aku ceritain hal-hal lain yang mungkin aja bisa dia jadiin bahan ‘main belakang’ lagi, siapa yang tau kan? Bye maksimal aja lah buat kamu ceu, makasih lho selama ini udah mau jadi tong sampah semua cerita ga penting aku, maafin kalo telinganya pernah dan sering panas gara-gara harus dengerin cerita aku, dan juga semoga beruntung dengan pertemanan yang lain yah, semoga karma ga cepet-cepet nemuin kamu, serem aku ngebayanginnya *kibas tangan melenggang anggun sambil jangan lupa kaki kanan dulu yang melangkah hati-hati keserimpeut*

Nah terus Januari juga ngajarin aku buat bisa lebih mengenal lagi apa dan siapa yang bener-bener aku mau, ga salah lagi ngartiin mana suka, kagum, atau sayang. Inget Ti, kalo panjang umur bulan depan angka umur kamu nambah, makin banyakin itu berkah sama bahagia jangan stres terus yang ditambah ( omongan dari si hyde ke si jekyll, hahahaha gilanya keluar deh ah ).

Yuk ah Feb, jadi bulan yang makin cerah, shine bright like a diamond ya, makin wise, makin pinter nyeimbangin hati sama otak! Februari, bismillah.