Rabu, 03 Februari 2016

Melepas Hujan


Masa lalu bagiku terkadang seperti hujan. Ia kadang membumbung tinggi di depan matamu, atau memercik sedikit kena pipimu atau justru deras sekali di antara sudut-sudut jendela hatimu. Memandang masa lalu seperti genangan hujan, selalu mengapung di permukaan matamu. Terus menerus menggenang jika memang kamu tidak berani untuk menghapusnya.

Masa lalu tercipta bukan untuk dilupakan, ia nyata untuk diingat. Karena memang kita tidak diberikan keajaiban untuk bisa memutar waktu kembali dan memperbaiki sesuatu yang dirasa tidak pas di masa lalu, maka mengambil hikmah atas apa yang terjadi dan melanjutkan hidup adalah pilihan terbaik yang bisa kita lakukan. Seperti juga hujan dan genangannya, sekali dua kali kita mungkin berhasil menghindarinya tapi dilangkah selanjutnya kita pasti akan kebasahan, dan apa yang harus kita lakukan adalah menertawakan kekonyolannya, seraya lekas bergegas pulang ke rumah, membersihkan diri, memakai sweater tebal sambil menyeruput secangkir cokelat hangat dan kembali menertawakan diri sendiri.

Jika cara berdamai dengan orang lain mungkin adalah dengan mengakui kesalahan dan meminta maaf-dan-atau-memaafkan maka menerima lantas menertawakannya adalah cara berdamai dengan diri sendiri. Lepas. The show must go on,sederas apapun hujan dan segala riak badainya, suatu waktu ia akan berhenti juga. Maka nikmatilah segala 'kemeriahannya' lantas lekatkan ia rapat-rapat dengan memorimu, menyatu dengan petrichor setelahnya.

( dari aku yang masih juga terlalu pintar-atau-naif menutupi luka dengan setumpuk senyuman dan tawa renyah )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar